Penilaian Otentik


A.Hakikat Penilaian
Proses pembelajaran merupakan kegiatan yang berkesinambungan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran. Sebagai komponen yang tidak terpisahkan dalam sebuah pembelajaran, penilaian digunakan guru untuk memperoleh informasi tentang pembelajaran dilakukan. Dalam dunia pendidikan, sering kali ada tiga istilah yang digunakan bergantian pemakaiaannya atau bahkan disamakan pengertiannya padahal secara esensi berbeda. Ketiga istilah tersebut adalah penilaian (evaluasi, evaluation), pengukuran (measurement), dan tes (test). Tuckman (melalui Nurgiyantoro,2012:6) mengatakan bahwa penilaian adalah suatu proses untuk mengetahui (menguji) apakah suatu kegiatan, proses kegiatan, keluaran suatu program telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang telah ditentukan. Istilah yang kedua, pengukuran merupakan bagian dari alat penilaian dan selalu berhubungan dengan data-data kuantitatif, misalnya skor peserta didik. Istilah yang terakhir, yaitu tes merupakan salah satu cara untuk mendapatkan informasi (kemampuan) peserta didik. Tes ini biasanya lebih popular dengan kata ujian atau ulangan.
Reynolds dkk (2010:3) juga mengungkapkan perbedaan ketiga istilah di atas. Tes adalah sebuah sarana yang digunakan untuk mengetahui contoh perilaku individual yang diamati, dievaluasi, dan diberi skor dengan standar prosedur tertentu. Tes ini bertujuan untuk mengetahui informasi secara lebih spesifik tentang pencapaian materi yang telah diajarkan. Dengan adanya tes, pendidik akan mengetahui secara lebih nyata hasil dari proses pembelajaran yang telah dilakukan. Pengukuran adalah seperangkat aturan untuk menilai tingkat pencapaian yang ditunjukkan objek, ciri-ciri, atribut, dan sikap siswa. Penilaian adalah sebuah prosedur sistematis yang digunakan untuk mengumpulkan informasi yang dapat digunakan untuk menyimpulkan karakteristik siswa atau objek untuk mencapai tujuan pendidikan. Penilaian harus mampu memberikan pemahaman secara spesifik terhadap karakteristik peserta didik yang dilakukan secara terintegrasi. Jadi, dapat dikatan bahwa tes merupakan salah satu metode pengumpulan informasi dan merupakan salah satu alat dalam penilaian. Oleh karena itu, penilaian memiliki cakupan yang lebih luas daripada tes.

Griffin dan Peter (1991:4) mengatakan bahwa penilaian merupakan proses pengumpulan hasil dari pencapaian pembelajaran siswa. Penilaian berdasarkan pada kenyataan. Hal ini tidak hanya sekedar tes, pengukuran, maupun penyekoran. Dengan kata lain, merupakan usaha untuk mendeskripsikan beberapa karakteristik seseorang atau sesuatu. Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa penilaian adalah prosedur pengumpulan informasi tentang karakteristik siswa pada suatu proses pembelajaran. Penilaian ini merupakan serangkaian kegiatan yang di dalamnya menginterpretasikan kinerja yang ditunjukkan secara nyata dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Prinsip penilaian merupakan dasar untuk merencanakan sistem penilaian yang dikembangkan sesuai kepentingan program dalam kelas, kursus atau sekolah. Setiap prinsip tersebut dapat dideskripsikan dengan banyak kata kunci. Griffin dan Peter (1991:2) menyusun beberapa prinsip penilaian seperti di bawah ini.
1.Penilaian harus mampu mendeskripsikan kemampuan, sikap, dan konsep yang dikembangkan siswa (standar referensi).
2.Penilaian ini harus memungkinkan guru, orang tua, dan siswa secara tepat menganalisis pembelajaran, kekurangannya, dan menggunakannya.
3.Harus disetujui oleh dua atau lebih guru yang bekerja sama.
4.Penilaian harus sesuai dengan perencanaan untuk meningkatkan perkembangan dan kemajuan (lebih maju dan lebih berkembang).
5.Penilaian harus berhubungan dengan pengajaran dan program pembelajaran yang sedang dikembangkan guru atau sekolah (dikembangkan dan dikontrol guru).
6.Memungkinkan ketidakpastian dalam observasi (ada tingkatan keputusan).
7.Mendeskripsikan kemajuan siswa secara keseluruhan, relevan, dengan cara yang benar (validitas dan reliabilitas).
8.Guru, orang tua, dan siswa memiliki kesamaan pengertian tentang bentuk penilaian (interpretatif dan komunikatif).

B.Latar Belakang Penilaian Otentik
Sejak sepuluh tahun terakhir terjadi peningkatan yang sangat cepat dalam penentuan penilaian pendidikan. Bentuk penilaian yang biasa digunakan adalah tes pilihan ganda. Ketika penilaian jenis ini dirasa tidak cukup merepresentasikan kemampuan nyata siswa, pendidik mulai mencari alternatif lain. Selanjutnya, pendidik menitikberatkan penilaian aktivitas dalam kelas.
Penilaian alternatif terdiri dari sejumlah metode untuk menemukan apa yang siswa ketahui atau dapat lakukan yang menunjukkan perkembangan dan informasi bahan pembelajaran, dan salah satu bentuk penilaian tradisional, penamaan, tes pilihan berganda (Stiggins dalam O’malley dan Pierce, 1996:1). Penilaian alternatif didefinisikan merujuk pada penilaian otentik karena penilaian ini mencerminkan pada aktivitas kelas dan keadaan yang sebenarnya.
Pelaksanaan penilaian otentik didasari oleh dua hal, yaitu: penilaian tradisional tidak dapat sepenuhnya menunjukkan kemampuan siswa dan guru mengalami kesulitan menggunakan informasi yang diperoleh untuk perencanaan bahan-bahan pembelajaran. Tes pilihan ganda tidak akurat/representatif untuk mengetahui kemampuan berpikir siswa yang berhubungan dengan kurikulum. Tipe tes ini tidak dapat menggambarkan kemajuan pembelajaran dan bagaimana siswa belajar (Resnick dan Klopfer dalam O’malley dan Pierce,1996:4). Selain itu, hasil penilaian dengan tes berganda sering kali tidak sesuai dengan yang ditunjukkan siswa di dalam kelas. Padahal, guru memerlukan informasi tersebut sebagai ukuran apakah mereka dapat menyelesaikan tugas pembelajaran dengan baik/tidak. Informasi ini digunakan untuk perencanaan instruksional dan sebagai bahan umpan balik untuk memonitor kemajuan siswa.
Perkembangan terakhir saat ini yang menjadi perhatian guru, sekolah, dan pemerhati pendidikan adalah bagaimana bentuk penilaian dapat diaplikasikan untuk menilai pengetahuan dan kemampuan siswa yang diperoleh berfungsi efektif untuk masa depan dan masyarakat kompleks (hal ini tidak ditunjukkan oleh tes pilihan ganda). Sekolah dan pemerhati pendidikan melihat bahwa sekolah sukses harus mampu untuk memproduksi generasi baru dengan kemampuan yang yang dibutuhkan sepuluh tahun yang akan datang. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu bentuk penilaian, perkembangan pengukuran baru yang lebih baik.

C.Pengertian Penilaian Otentik
Hakikat penilaian pendidikan menurut konsep authentic assesment adalah proses pengumpulan berbagai data yang dapat memberikan gambaran tentang perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar untuk mengetahui proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Apabila data yang dikumpulkan guru mengindikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, guru segara bisa mengambil tindakan yang tepat. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, asesmen tidak hanya dilakukan di akhir periode (semester) pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar (UAN) tetapi dilakukan bersama dan secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran.
Penilaian otentik adalah suatu penilaian belajar yang merujuk pada situasi atau konteks “dunia nyata”, yang memerlukan berbagai macam pendekatan untuk memecahkan masalah yang memberikan kemungkinan bahwa satu masalah bisa mempunyai lebih dari satu macam pemecahan. Dengan kata lain, assesmen otentik memonitor dan mengukur kemampuan siswa dalam bermacam-macam kemungkinan pemecahan masalah yang dihadapi dalam situasi atau konteks dunia nyata. Dalam suatu proses pembelajaran, penilaian otentik mengukur, memonitor dan menilai semua aspek hasil belajar (yang tercakup dalam domain kognitif, afektif, dan psikomotor), baik yang tampak sebagai hasil akhir dari suatu proses pembelajaran, maupun berupa perubahan dan perkembangan aktivitas, dan perolehan belajar selama proses pembelajaran.
Proses penilaian otentik mengungkapkan kinerja siswa yang mencerminkan bagaimana peserta didik belajar, capaian hasil, motivasi, dan sikap yang terkait dengan aktivitas pembelajaran. Penilaian ini memerlukan waktu yang lebih lama ketika mengumpulkan informasi tetapi dapat mengungkap kompetensi peserta didik yang sebenarnya. Hal ini berbeda dengan penilaian tradisional yang dapat dilakukan dalam waktu singkat, cakupan pertanyaan yang luas, dan derajad validitas dan reliabilitas lebih tinggi.
O’malley dan Pierce (1996:4) mengatakan bahwa penilaian otentik adalah bentuk penilaian yang menunjukkan pembelajaran siswa yang berupa pencapaian, motivasi, dan sikap-yang relevan dalam aktivitas kelas. Contoh penilaian otentik termasuk di dalamnya penilaian perfomansi (performance assessment), portofolio (portfolios), dan penilaian diri-sendiri (student self-assessment).

1.Penilaian Performansi (Performance Assessment)
Penilaian ini merupakan bentuk penilaian yang membangun respon siswa, misalnya dalam hal berbicara atau menulis. Respon siswa dapat diperoleh guru dengan melakukan observasi selama pembelajaran di kelas. Penilaian ini meminta siswa untuk menyelesaikan tugas yang komplek dalam konteks pengetahuan, pembelajaran terkini, dan keahlian yang relevan untuk menemukan solusi dari suatu permasalahan. Siswa dapat menggunakan bahan-bahan atau menunjukkan hasil aktifitas tangan dalam mengatasi masalah, contoh: laporan berbicara, menulis, proyek individu maupun grup, pameran, dan demonstrasi.
Karakteristik penilaian perfomansi (diadaptasi dari Aschbacher:1991; Herman, Aschbacher, dan Winters: 1992 dalam O’malley dan Pierce,1996:5) seperti di bawah ini.
a.Respon yang dibangun: siswa membangun respon, mengembangkan respon, meminta bentuk performansi/tampilan atau menciptakan produk.
b.Pemikiran tingkat tinggi: siswa menggunakan pikiran tingkat tinggi untuk membangun respon ketika membuka dan mengakhiri pertanyaan.
c.Keotentikan: tugas itu penuh makna, menantang, meminta aktivitas siswa bahwa atau konteks dunia nyata lain dimana siswa akan menunjukkannya.
d.Terpadu: tugas merupakan penyatuan dari kemampuan berbahasa.
e.Proses dan produk: prosedur dan strategi untuk memperoleh respon yang benar atau untuk mencari solusi atas tugas yang kompleks.
f.Kedalaman vs keluasan: penilaian perfomansi menyediakan informasi yang mendalam mengenai kemampuan siswa yang merupakan kebalikan dari tes pilihan ganda yang cakupannya luas tetapi tidak mendalam.

Penilaian perfomansi biasanya meminta guru memutuskan respon yang ditunjukkan siswa. Untuk membantu guru membuat keputusan yang akurat dan reliabel, penyekoran merujuk pada penggunaan rubrik yang nilai numeriknya merupakan kumpulan tingkatan perfomansi, misalnya 1: dasar, 2: pandai, dan 3: mahir. Kriteria masing-masing tingkatan harus ditetapkan tepat sesuai dengan kemampuan yang akan didemonstrasikan siswa. Salah satu karakteristik penilaian perfomansi adalah kriteria dibuat umum dan diketahui dalam tingkatannya. Oleh karena itu, siswa dapat berpartisipasi dalam penempatan dan penggunaan kriteria penilaian diri terhadap penampilannya sendiri.

2.Portofolio (Portfolios)
Bentuk ini merupakan sistem pengumpulan hasil kerja siswa yang dianalisis untuk menunjukkan kemajuan belajar siswa dalam jangka waktu tertentu. Contoh penilaian portofolio, misalnya: menulis, membaca buku harian, menggambar, audio atau video, dan atau komentar guru dan siswa tentang kemajuan yang telah dicapai siswa.

3.Penilaian Diri-Sendiri (Student Self-Assessment)
Penilaian ini merupakan kunci dalam penilaian otentik dan dalam pengaturan pembelajaran diri, “motivasi dan strategi untuk menyelesaikan permasalahan dengan tujuan spesifik”. Penilaian diri-sendiri digunakan untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran yang di dalamnya merupakan integrasi dari kemampuan kognitif, motivasi, dan sikap terhadap pembelajaran. Dalam pengaturan diri pembelajar, murid membuat pilihan, memilih aktivitas pembelajaran, dan merencanakan bagaimana mereka menggunakan waktu dan sumber. Mereka memiliki kebebasan untuk memilih aktivitas yang menantang, mengambil resiko, meningkatkan kemahiran pembelajaran, dan mencapi tujuan yang telah direncanakan.
Pada penilaian ini siswa memiliki kontrol pembelajarannya sendiri sehingga mereka dapat memutuskan untuk menggunakan sumber yang tersedia di dalam atau di luar kelas. Siswa dapat mengatur pembelajarannya sendiri dan bekerja sama dengan murid lain dalam bertukar ide, saling membantu, dan saling mendukung dengan sesama teman sebaya. Ketika siswa belajar, mereka membangun makna, meninjau kembali pemahamannya, dan berbagi makna dengan teman yang lain. Siswa dapat menemukan makna dan pemahaman baru sehingga mereka dapat memonitor pengaturan diri demi kemajuan pembelajaran. Penilaian diri dan pengaturan diri adalah inti pembelajaran dan menjadi bagian dari pembelajaran.
Penggunaan penilaian otentik secara tidak langsung akan merubah bahan-bahan pembelajaran. Sebagai contoh, kita tidak dapat menggunakan portofolio tanpa merubah filosofi pengajaran dan pusat pembelajarannya (pusatnya siswa). Dalam pembelajaran ini, siswa tidak hanya mendapatkan masukan dari yang mereka pelajari tetapi juga bagaimana mereka menilainya.
Pelaksanaan penilaian otentik tidak lagi menggunakan format-format penilaian tradisional (multiple-choice, matching, true-false, dan paper and pencil test), tetapi menggunakan format yang memungkinkan siswa untuk menyelesaikan suatu tugas atau mendemonstrasikan suatu performasi dalam memecahkan suatu masalah. Format penilaian ini dapat berupa: a) tes yang menghadirkan benda atau kejadian asli ke hadapan siswa (hands-on penilaian), b) tugas (tugas ketrampilan, tugas investigasi sederhana dan tugas investigasi terintegrasi), c) format rekaman kegiatan belajar siswa (misalnya : portofolio, interview, daftar cek, presentasi oral, dan debat).
Beberapa pembaharuan yang tampak pada penilaian otentik adalah sebagai berikut.
a)Melibatkan siswa dalam tugas yang penting, menarik, bermanfaat, dan relevan dengan kehidupan nyata siswa.
b)Tampak dan terasa sebagai kegiatan belajar bukan tes tradisional.
c)Melibatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan mencakup pengetahuan yang luas.
d)Menyadarkan siswa tentang apa yang harus dikerjakannya.
e)Merupakan alat penilaian dengan latar standar (standard setting), bukan alat penilaian yang distandarisasikan.
f)Berpusat pada siswa (student centered) bukan berpusat pada guru (teacher centered).
g)Dapat menilai siswa yang berbeda kemampuan, gaya belajar, dan latar belakang kulturalnya.

D.Karakteristik Penilaian Otentik
Menurut Santosa (2004) beberapa karakteristik penilaian otentik adalah sebagai berikut.
1.Penilaian merupakan bagian dari proses pembelajaran.
2.Penilaian mencerminkan hasil proses belajar pada kehidupan nyata.
3.Menggunakan bermacam-macam instrumen, pengukuran, dan metode yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar.
4.Penilaian harus bersifat komprehensif dan holistik yang mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran.
Di sisi lain, Nurhadi (2004:173) mengemukakan terdapat beberapa karakteristik authentic assesment sebagai berikut.
1.Melibatkan pengalaman nyata (involves real-world experience).
2.Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung.
3.Mencakup penilaian pribadi (self assesment) dan refleksi.
4.Hal yang diukur adalah keterampilan dan performansi bukan sekedar mengingat fakta.
5.Bentuk penilaian yang berkesinambungan.
6.Sistem penilaian yang terintegrasi.
7.Dapat digunakan sebagai umpan balik terhadap guru.
8.Kriteria keberhasilan dan kegagalan diketahui siswa dengan jelas.

E.Tujuan & Prinsip-Prinsip Penilaian Otentik
Santoso (2004) mengungkapkan beberapa tujuan penilaian otentik sebagai berikut.
1.Menilai kemampuan individu melalui tugas tertentu.
2.Menentukan kebutuhan pembelajaran.
3.Membantu dan mendorong siswa.
4.Membantu dan mendorong guru mengajar yang lebih baik.
5.Menentukan strategi pembelajaran.
6.Akuntabilitas lembaga.
7.Meningkatkan kualitas pendidikan.

Lebih jauh, Santoso (2004) mengungkapkan beberapa prinsip penilaian otentik sebagai berikut.
1.Keeping track, yaitu harus mampu menelusuri dan melacak kemajuan siswa sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah ditetapkan.
2.Checking up, yaitu harus mampu mengecek ketercapaian kemampuan peserta didik dalam proses pembelajaran.
3.Finding out, yaitu penilaian harus mampu mencari dan menemukan serta mendeteksi kesalahan-kesalahan yang menyebabkan terjadinya kelemahan dalam proses pembelajaran.
4.Summing up, yaitu penilaian harus mampu menyimpulkan apakah peserta didik telah mencapai kompetensi yang ditetapkan atau belum.

F.Cakupan Penilaian Otentik
Terdapat tiga aspek dinilai dalam penilaian otentik, yaitu kognitif (kepandaian), afektif (sikap), dan psikomotorik. Griffin dan Peter (1991:52-61) mengatakan bahwa setiap aspek yang dinilai memiliki karakteristik sendiri-sendiri dan membutuhkan bentuk penilaian yang berbeda seperti penjelasan di bawah ini.
1.Kognitif
Aspek ini berhubungan dengan pengetahuan individual (kepandaian/pemahaman) yang ditunjukkan dengan siswa memperoleh hasil dari pembelajaran yang telah dilakukan. Bentuk penilaian kognitif ini secara eksplisit maupun implisit harus merepresentasikan tujuan pencapaian pembelajaran. Biasanya tes yang dilaksanakan oleh guru dapat berupa ujian untuk mengetahui pemahaman terhadap materi.

2.Afektif
Alport (dalam Griffin dan Peter, 1991:56) menyatakan bahwa afektif merupakan bentuk integrasi dari beberapa karakter, yaitu: prediksi respon baik dan tidak baik, sikap dibentuk oleh pengalaman, dan tercermin dalam kegiatan sehari-hari. Karakteristik sikap yang dinilai merupakan bentuk perasaan individual dan emosional siswa. Dalam melakukan penilaian ini guru harus cermat dan hati-hati karena skala sikap biasanya sulit ditentukan secara objektif. Komponen penilaian sikap pada siswa meliputi emosi, konsistensi, target/tujuan, dan ketertarikan/minat. Indikator yang dapat digunakan pada skala sikap misalnya baik-tidak baik, indikator pada minat misalnya tertarik-tidak tertarik dan sebagainya. Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan teknik skala, metode observasi, dan respon psikologi.

3.Psikomotorik
Perkembangan psikomotorik juga merupakan bagian dai ranah evaluasi yang harus diketahui oleh guru. Penilaian psikomotorik merupakan bentuk pengukuran kemampuan fisik siswa yang meliputi otot, kemampuan bergerak, memanipulasi objek, dan koordinasi otot syaraf. Contoh penilaian ini misalnya pada kemampuan otot kecil (misal mengetik) atau otot besar (misal melompat). Contoh yang termasuk aktivitas motorik seperti pendidikan fisik, menulis tangan, membuat hasil karya kerajinan dan lain-lain. Pengetahuan guru untuk mengenali kemampuan psikomotorik siswa sangat penting karena psikomotorik merupakan bagian dari bentuk kecerdasan. Siswa yang mampu mengetik secara cepat tidak hanya sekedar memiliki kemampuan menggunakan perangkat computer secara efisien, tetapi di dalamnya juga terintegrasi kemampuan untuk membaca dan mengeja. Tipe penilaian psikomotorik yang digunakan harus mengacu pada tujuan, misalnya melalui pertanyaan di bawah ini.
a.Apakah siswa mampu melakukan tugas dengan baik?
b.Apakah siswa dapat menunjukkan penampilan terbaiknya dalam tugas tersebut?
c.Bagaimana penampilan seorang siswa jika dibandingkan dengan siswa yang lain dalam kelas/bidang yang sama?

G.Jenis-jenis Penilaian Otentik
Ada banyak sekali jenis penilaian otentik yang digunakan dalam kelas saat ini (Feuer dan Fulton 1993 melalui O’malley dan Pierce, 1996:11). Ada berbagai kemungkinan yang cukup luas bahwa guru dapat memilih dari sejumlah pilihan untuk memenuhi tujuan khusus/spesifik. Guru juga dapat menyesuaikan pendekatan untuk memenuhi kebutuhan instruksional dan kebutuhan siswa. Penilaian otentik mencakup sebuah variasi pengukuran yang dapat diadaptasi untuk situasi berbeda. Berikut ini beberapa contoh penilaian otentik yang disajikan dalam tabel beserta penjelasannya. Jenis-jenis penilaian otentik yang disampaikan dalam makalah ini adalah menurut pendapat O’Malley dan Pierce (1996:11.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s