Kompetensi dan Pengetahuan Sosiolinguistik dalam Pengajaran dan Pembelajaran Bahasa

Gambar

Bahasa merupakan produk sosial budaya masyarakat. Sebagai produk sosial budaya masyarakat, bahasa harus dipahami dari dua aspek bentuk dan makna. Karena bahasa yang dihasilkan masyarakat tidak hanya berupa deretan tanda-tanda tanpa arti tetapi deretan tanda yang memuat konteks makna dan nilai. Dengan kata lain, setiap bahasa yang dituturkan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari konteks makna dan nilai. Karena pengguna bahasa memiliki karakteristik majemuk, akibatnya bahasa pun memiliki sejumlah karakteristik berbeda. Misal, masyarakat dapat dibedakan berdasar umur, jenis kelamin, status sosial, pekerjaan, dan tingkat pendidikan. Tentu saja bahasa yang digunakan masyarakat tersebut memiliki ciri berbeda.

Ada beberapa pertanyaan muncul ketika orang berusaha memahami bahasa dan masyarakat. Mengapa kita mengatakan hal yang sama dengan cara berbeda? Mengapa dalam situasi berbeda kita menggunakan bahasa berbeda? Apakah perbedaan usia, jenis pekerjaan, status sosial, dan tingkat pendidikan berpengaruh terhadap penggunaan bahasa? Lalu, apakah bahasa memiliki fungsi tertentu dalam proses komunikasi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut haruslah dijawab oleh disiplin ilmu di bidang linguistik.

Dalam studi linguistik pendidikan dikenal salah satu disiplin ilmu sosiolinguistik. Objek kajian disiplin ilmu ini menekankan pada hubungan antara bahasa dan masyarakat. Sosiolinguistik menaruh perhatian pada kondisi masyarakat yang mempengaruhi penggunaan bahasa. Lebih lanjut, Holmes (2001:1) mengatakan bahwa sosiolinguistik digunakan untuk menjelaskan bagaimana orang berbicara secara berbeda dalam konteks sosial berbeda. Selain itu, sosiolinguistik juga memfokuskan pada pengidentifikasian fungsi sosial bahasa dan cara bahasa digunakan untuk menyampaikan makna sosial. Seperti halnya definisi Holmes, Wardhaugh (1990:12) memaparkan bahwa sosiolinguistik ditujukan untuk menginvestigasi hubungan bahasa dan masyarakat dengan tujuan pemahaman terhadap struktur bahasa dan fungsi bahasa dalam komunikasi.

Setelah mengetahui bahwa objek kajian sosiolinguistik berupa variasi penggunaan bahasa dalam masyarakat, tentu saja memiliki kontribusi strategis dalam pembelajaran dan pengajaran bahasa. Kontribusi tersebut dapat berupa ihwal praktis dan teoretis. Terkait dengan pembelajaran dan pengajaran bahasa, ada tiga pandangan konseptual yang diajukan Kumaravadivelu (2008:3-4) yaitu bahasa sebagai sistem, bahasa sebagai wacana, dan bahasa sebagai ideologi. Secara singkat ketiganya akan diuraikan berikut ini.

Kumaravadivelu (2008:4) menjelaskan pusat inti dari bahasa sebagai sistem terdiri dari sistem fonologi yang berkaitan dengan pola suara, sistem semantik yang berkaitan dengan kata-kata, dan sistem sintaksis yang berhubungan dengan aturan tata bahasa. Bahasa sebagai wacana mengacu pada contoh bahasa lisan atau tulis yang memiliki hubungan internal bentuk dan makna dan berhubungan secara koheren dengan fungsi komunikatif eksternal dan tujuan yang diberikan lawan bicara. Sementara itu, bahasa sebagai ideologi merujuk pada satu benang merah yaitu kekuasaan dan dominasi. Ideologi bahasa mewakili persepsi bahasa dan wacana yang dibangun untuk kepentingan kelompok sosial atau budaya tertentu.

Kajian sosiolinguistik pada dasarnya mencakup tiga pandangan konseptual bahasa tersebut. Artinya, hasil kajian disiplin ilmu ini baik secara teoretis maupun praktis akan diperlukan untuk mengembangkan desain pembelajaran dan pengajaran bahasa. Bahkan oleh ahli linguistik terapan pedoman konseptual tentang bahasa digunakan dan dimanfaatkan untuk tujuan pengajaran di kelas. Selanjutnya, dalam buku Understanding Language Teaching karya Kumaravadivelu (2008) dikenal dua istilah yang berkaitan dengan pengajaran bahasa, yaitu komponen kompetensi dan area pengetahuan. Kedua istilah itu menyebutkan sosiolinguistik sebagai sebuah kompetensi dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik ataupun guru dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa.

Kompetensi sosiolinguistik selanjutnya dibedakan menjadi dua yaitu kompetensi sosiolinguistik dan kompetensi wacana. Kedua komponen ini berurusan dengan bahasa sebagai wacana yang merujuk pada aspek berbeda. Canale (1983:7) melalui Kumaravadivelu (2008:17) memberi pengertian kompetensi sosiolinguistik sebagai pengetahuan tentang sejauh mana ujaran-ujaran diproduksi dan dipahami dengan tepat dalam konteks sosiolinguistik berbeda bergantung pada faktor kontekstual seperti partisipan, tujuan interaksi, dan norma-norma atau konvensi interaksi.

Selain itu, kompetensi dan pengetahuan sosiolinguistik juga menekankan bagaimana ujaran-ujaran atau kalimat dan teks terkait dengan tujuan komunikatif pengguna bahasa dan fitur penggunaan pengaturan bahasa. Pengetahuan-pengetahuan seperti pengetahuan dialek/variasi, register, ekspresi idiomatik, dan bentuk ujaran dibutuhkan untuk mencapai kompetensi sosiolinguistik. Jika dikaitkan dengan tujuan interaksi pada lawan tutur yang khusus, kompetensi ini memberikan pengetahuan kapan untuk berbicara dan kapan untuk diam dalam situasi tertentu. Tak hanya itu, kompetensi ini juga mencakup pengetahuan bagaimana berbicara yang sesuai dalam konteks formal dan informal.

Di samping itu kompetensi sosiolinguistik memberi pemahaman tentang cara berbeda ketika berinteraksi dengan laki-laki atau perempuan. Jika dikaitkan dengan komunitas monolingual, termasuk pembelajaran menggunakan bahasa komunitas yang menandakan satu keanggotaan komunitas tertentu. Jika dikaitkan dengan bilingualisme dan multilingualisme, kompetensi ini mencakup pengetahuan kapan harus beralih kode dan bercampur kode saat bertemu dengan penutur lain. Tidak hanya itu, kompetensi sosiolinguistik mencakup pembelajaran bersikap terhadap perbedaan variasi bahasa penutur lain. Kompetensi ini menjelaskan bahwa semua anggota komunitas butuh untuk memahami dialek standar dalam suatu bahasa.

Dalam konteks pembelajaran dan pengajaran bahasa yang dilakukan guru, kompetensi sosiolinguistik memiliki banyak peran dalam mendukung kesuksesan pembelajaran. Kompetensi sosiolinguistik dapat dijadikan pedoman dalam mendesain dan menilai program pembelajaran bahasa. Guru juga memiliki pengetahuan bagaimana berinteraksi dengan kondisi siswa yang homogen dan heterogen. Akibatnya guru bertindak hati-hati dalam pemilihan bahasa ketika proses pengajaran dan pembelajaran berlangsung. Di aspek lain, guru juga dapat mengajarkan sikap berbahasa secara santun dalam konteks berbeda.

Di samping itu, kompetensi sosiolinguistik menekankan kepada guru bagaimana menggunakan bahasa untuk fungsi berbeda. Misalnya, ketika guru meminta siswa untuk melakukan penugasan, ketika guru akan mengajarkan bahasa kepada penutur asing. Selain itu, dengan modal kompetensi sosiolinguistik ini guru dapat memilih bahan ajar dan metode yang tepat untuk mengajarkan bahasa sesuai dengan karakteristik siswa.

Muara akhir pembelajaran dan pengajaran bahasa saat ini adalah membekali siswa dengan kompetensi komunikatif. Siswa diharapkan mampu berkomunikasi menggunakan bahasa yang baik dan benar sesuai dengan konteks sosial tertentu. Tidak hanya itu, siswa juga dituntut berbahasa secara positif dalam kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk. Di sisi lain, guru adalah ujung tombak pembelajaran dan pengajaran bahasa harus menjadi figur memadai bagi siswa. Artinya, guru menjadi contoh nyata berbahasa harus memiliki komponen kompetensi bahasa yang baik. Salah satunya kompetensi sosiolinguistik.

DAFTAR BACAAN

Holmes, Janet. 2001. An Introduction to Sociolinguistics. London: Pearson.

Kumaravadivelu, B. 2008. Understanding Language Teaching. London: Lawrence Erlbaum Associates, Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s