BAHASA DAN GENDER: Stereotipe Gaya Percakapan Pria dan Wanita Oleh: Agung Widiyantoro, S.Pd.

 PENDAHULUAN

Manusia adalah bagian dari masyarakat. Sebagai bagian masyarakat, manusia memiliki fungsi sebagai makhluk sosial. Artinya, manusia akan selalu berhubungan dengan manusia lain untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Hal itu dikarenakan manusia memiliki peran dan status berbeda di dalam masyarakat. Perbedaan itu terjadi karena masyarakat bisa dibedakan menurut agama, status sosial, pekerjaan, usia, dan gender. Individu-individu beragam dalam masyarakat itu selalu membentuk hubungan saling membutuhkan. Tentu saja bahasa sebagai sarana utama untuk berkomunikasi. Akhirnya, bahasa memiliki peran penting untuk menyampaikan pesan, ide, dan perasaan antarsesama manusia.

Kondisi masyarakat yang beragam mengakibatkan penggunaan bentuk bahasa berbeda. Perbedaan bentuk bahasa antarkelompok dalam masyarakat itu dikenal dengan variasi bahasa. Bahasa yang digunakan oleh kelompok penutur usia remaja, tentu akan berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh usia dewasa. Tidak hanya itu, variasi bahasa muncul berkaitan dengan perbedaan status sosial, gender, jenis pekerjaan, dan agama. Jadi, dapat dikatakan bahwa variasi bahasa muncul akibat adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa.

Dalam tulisan ini akan diuraikan penggunaan bahasa dikaitkan dengan masalah gender. Lalu muncul pertanyaan “Apakah pria dan wanita memang menggunakan bahasa dengan cara yang berbeda?” dan “Mengapa terjadi perbedaan gaya percakapan berbasis gender?”

 

PEMAHAMAN SINGKAT TENTANG KARAKTERISTIK GENDER

Sebelum membahas penggunaan bahasa berbasis gender, perlu dibahas konsep tentang “gender” dan “seks”. Thomas dan Wareing (2007:106) menjelaskan bahwa seks adalah kategori biologis, sedangkan gender adalah kategori sosial. Seks merupakan kategori biologis karena sejak sebelum seseorang lahir hal itu sudah terbentuk. Sementara gender merupakan pola-pola perilaku tertentu yang dilakukan oleh pria dan wanita.

Perbedaan yang tampak pada konsep “seks” yaitu jika wanita mengalami proses hamil dan melahirkan sedangkan pria tidak. Perbedaan semacam itu didasarkan pada sifat biologis. Di sisi lain, konsep “gender” lebih mengarah kepada bentuk-bentuk perilaku antara pria dan wanita yang mengakibatkan keduanya dipandang berbeda. Sebagai contoh, cara berpenampilan, cara berbicara, dan bentuk pekerjaan.

Selanjutnya, Wardhaugh (2006: 326-328) mengemukakan klaim yang berkaitan dengan gender dan variasi bahasa. Klaim yang pertama menyebutkan bahwa secara biologis laki-laki dan perempuan berbeda dan perbedaan ini memiliki konsekuensi yang serius pada gender. Perempuan biasanya memiliki karakter non-kompetitif dan mementingkan hubungan/relasi dengan orang lain. Di sisi lain, laki-laki cenderung mengutamakan kemandirian dan hubungannya dengan Tuhan (vertical relationship) daripada hubungannya dengan manusia (horizontal relationship).

Klaim kedua adalah bahwa organisasi sosial diasumsikan sebagai hubungan kekuatan (power relationship). Wardhaugh (2006: 327) menyampaikan bahwa tingkah laku bahasa menunjukkan dominasi laki-laki. Laki-laki menggunakan kekuatannya untuk mendominasi. Laki-laki mencoba mengambil kontrol, menginterupsi, memilah-milah topik, dan sebagainya. Mereka menggunakan hal tersebut dalam hubungannya dengan sesama lelaki maupun dengan perempuan. Sebagai konsekuensi, perempuan lebih teliti dalam menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang prestigious untuk menjaga dirinya dalam hubungannya dengan orang yang lebih kuat karena perempuan relatif memiliki kekuatan yang lebih lemah daripada laki-laki. Selain itu, Wardhaugh (2006: 327) juga menjelaskan bahwa perempuan cenderung memiliki jaringan sosial lebih sedikit daripada jaringan yang dimiliki oleh laki-laki. Akan tetapi perempuan memiliki sensitivitas lebih besar pada bentuk-bentuk bahasa, khususnya pada bentuk bahasa standar.

Klaim yang ketiga adalah bahwa laki-laki dan perempuan adalah makhluk sosial yang harus belajar untuk bertindak dengan cara tertentu. Wardhaugh (2006: 327) menjelaskan bahwa tingkah laku bahasa dipelajari dari tingkah laku. Laki-laki belajar untuk menjadi laki-laki dan perempuan belajar untuk menjadi perempuan, yaitu berbicara secara linguistik. Masyarakat menunjukkan pada mereka tentang berbagai pengalaman hidup yang berbeda-beda sehingga mereka dapat belajar dari pengalaman itu.

Maltz dan Borker (1982) melalui Wardhaugh (2006: 327-328) memberikan sebuah contoh berkaitan dengan klaim ketiga di atas, yaitu pada orang Amerika Utara di mana laki-laki dan perempuan yang berasal dari budaya sosiolinguistik yang berbeda melakukan komunikasi. Pada akhirnya, dimungkinkan untuk terjadi miscommunication. Lebih lanjut Maltz dan Borker menjelaskan bahwa mhmm yang digunakan oleh perempuan berarti “Saya mendengarkan,” di sisi lain mhmm yang diucapkan laki-laki mengandung arti “Saya setuju.” Sebagai konsekuensi, laki-laki menganggap bahwa perempuan selalu setuju dengan mereka dan mereka menyimpulkan bahwa adalah mustahil untuk memberitahu apa yang sedang dipikirkan oleh perempuan. Di sisi lain, perempuan bisa sampai marah disebabkan karena mereka menganggap bahwa laki-laki cenderung tidak pernah mau mendengarkan.

Berdasarkan contoh Maltz dan Borker di atas, dapat disimpulkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki aturan masing-masing dalam berkomunikasi dan pada komunikasi antar-gender aturan-aturan tersebut biasanya akan terjadi ketidaksepahaman.

Menurut Sumarsono (2007: 113) keragaman bahasa berdasarkan jenis kelamin timbul karena bahasa sebagai gejala sosial erat hubungannya dengan sikap sosial. Secara sosial pria dan wanita berbeda karena masyarakat menentukan peranan sosial yang berbeda untuk mereka, dan masyarakat mengaharapkan pola tingkah laku yang berbeda. Kenyataan sosial ini dicerminkan melalui bahasa. Tutur perempuan bukan hanya berbeda, melainkan juga lebih  “benar”. Menurut Sumarsono (2007: 113) fenomena tersebut merupakan pencerminan kenyataan sosial, pada umumnya dari pihak perempuan diharapkan tingkah laku sosial yang lebih benar.

Selain itu, karakteristik perempuan dalam berbahasa adalah wanita cenderung bersifat androgini (mendua). Menurut Elyan (Sumarsono, 2007: 127), perempuan-perempuan di kota besar cenderung mendua; mereka ingin maju dan kuat (perkasa) seperti laki-laki, namun tidak mau kehilangan kefemininan. Di samping itu, perempuan-perempuan yang berkarier (wanita karier), yang memiliki status tinggi di luar rumah; mereka ingin berkarya sejajar dengan pria, tetapi tetap ingin sebagai ibu dan istri yang ideal.

Apakah laki-laki dan wanita berbicara dengan cara berbeda?

          Ada asumsi mengenai stereotipe umum bahwa wanita berbicara lebih banyak daripada laki-laki.  Oleh karena itu, sering muncul istilah-istilah khusus yang digunakan untuk percakapan wanita, misalnya gosip, ngrumpi, dll. Namun, istilah tersebut jarang dipakai untuk menyebut istilah dalam percakapan para lelaki. Istilah tersebut secara tersirat bermakna bahwa percakapan wanita itu banyak dan melimpah tapi tidak berujung/bermakna. Ada beberapa penemuan dalam penelitian yang mengungkap perbedaan cara bercakap-cakap antara pria dan wanita. Penelitian ini dilakukan di AS, Inggris, dan Selandia Baru. Ada penemuan yang kadang berlawanan dengan steretipe umum di atas (Thomas & Wareing, 2004:86).

Laki-laki atau perempuan yang berbicara lebih banyak?

Stereotipe gaya bicara laki-laki dan wanita secara umum melukiskan bahwa wanita berbicara lebih banyak daripada laki-laki. Ternyata faktanya berkata lain. Laki-laki lebih banyak berbicara dalam percakapan yang terdiri atas kelompok bermacam jenis kelamin daripada perempuan (Fishman,1980), Spender,1980) and Swann(1989). Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa laki-laki dua kali lebih lama berbicara daripada waktu yang digunakan oleh perempuan. Lalu ada bukti juga bahwa perempuan yang berbicara lebih banyak dalam sebuah percakapan akan lebih dihargai  oleh pembicara lain. Selain itu, ditemukan pula bukti di kelas-kelas bahwa siswa laki-laki lebih banyak berbicara di depan kelas daripada siswa perempuan dan hal ini menyita waktu guru.

Penulis mencermati beberapa bukti di atas dan berpendapat bahwa penemuan tersebut tidaklah mencerminkan kenyataan yang terjadi pada dasawarsa sekarang ini. Ada kondisi yang memungkinkan para laki-laki memang akan berbicara lebih banyak daripada perempuan. Dan ada kemungkinan dalam kondisi lain, perempuanlah yang memegang dominasi pembicaraan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi banyak dan tidaknya pembicaraan seseorang, terutama antara pria dan perempuan.

Fakor-faktor tersebut yakni adanya ideologi kesetaraan gender, ideologi pekerjaan, pendidikan. Ideologi kesetaraan gender membawa pengaruh luas pada pembentuk gaya bicara wanita. Wanita tidak lagi mau diposisikan seperti pada zaman dulu yang hanya berfungsi sebagai istri dan ibu. Wanita ingin juga disejajarkan dengan pria dalam hal kesempatan dan posisi dalam pendidikan dan pekerjaan. Akibatnya, banyak wanita yang berpendidikan tinggi dan memiliki jabatan tinggi pula. Hal ini mungkin sebagai bentuk perjuangan wanita untuk ingin lebih dihargai dan dihormati. Dengan demikian, saat ini tiap-tiap pria dan wanita memiliki kecenderungan sama dalam hal kuantitas, frekuensi, dan kualitas percakapannya. Hal itu bergantung pada posisi/kedudukan, tingkat pendidikan, topik pembicaraan.

DAFTAR PUSTAKA

 Sumarsono. 2007. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Sabda dan Pustaka Pelajar.

Thomas, Linda dan Shan Wareing. 2007. Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan. Yogyakarta:Pustaka Pelajar

Wardhaugh, Ronald. 2006. An Introduction to Sociolinguistics. New York: Basil Blackwell Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s