VARIASI BAHASA: SLANG DAN JARGON

Penutur bahasa berada dalam masyarakat heterogen. Masyarakat tersebut tersusun atas berbagai penutur bahasa yang memiliki kelompok sosial berbeda baik berdasar pendidikan, umur, etnis, dan pekerjaan. Perbedaan latar belakang para penutur bahasa tersebut meniscayakan wujud bahasa yang bervariasi. Perkembangan dan perubahan pada wujud bahasa tidak bisa dihindari sebab bahasa adalah milik manusia yang selalu mengalami perubahan aktivitas sesuai kepentingannya. Oleh karena itu bahasa mengalami perkembangan yang dinamis.
Perubahan yang paling tampak saat ini terjadi pada wilayah leksikon dan semantik. Waktu demi waktu leksikon-leksikon baru telah bermunculan akibat semakin meluasnya kebutuhan penutur bahasa akan pengetahuan baru, jaringan sosial, dan komunikasi. Kosakata-kosakata baru yang bermunculan dapat juga terjadi karena perubahan iklim budaya, sosial, dan politik di sebuah negara. Perubahan iklim budaya tampak memiliki andil dalam perkembangan leksikon saat ini. Salah satunya, adanya perkembangan iptek berdampak pada munculnya leksikon-leksikon baru di bidang teknologi, seperti gadget, browsing, drifter, dll. Tak hanya itu, perubahan budaya dan sosial juga menyebabkan kalangan muda/remaja menciptakan kosakata bahasa nonformal untuk mendukung eksistensi mereka di dalam masyarakat. Lazimnya leksikon yang dimunculkan oleh kalangan remaja itu dikenal dengan slang.
Slang ini bersifat temporal; dan lebih umum digunakan di kalangan remaja, meski tidak menutup kemungkinan kalangan tua pun ada pula yang menggunakannya. Karena slang ini bersifat kelompok dan rahasia, maka timbul kesan bahwa kesan bahwa slang ini adalah bahasa rahasinya para pencoleng dan penjahat; padahal sebenarnya tidakklah demikian. Faktor kerahasiaan ini menyebabkan pula kosakata yang digunakan dalam slang seringkali berubah. Dalam hal ini yang disebut bahasa prokem (lihat Rahardjo dan Chamber Loir 1988; juga Kawira 1990) dapat dikategorikan slang.
A.Chaer dan L. Agustina (2010: 67) mendefinisikan slang sebagai variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia. Artinya, variasi ini digunakan oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas, dan tidak boleh diketahui oleh kalangan di luar kelompok itu. Oleh karena itu, kosakata yang digunakan dalam slang ini selalu berubah-ubah. Slang memang lebih merupakan bidang kosakata daripada bidang fonologi maupun gramatika. Contohnya, kosakata-kosata yang dipakai para remaja usia sekolah untuk melakukan percakapan baik secara lisan maupun tulis. Bahkan, jejaring sosial pun kerap kali dijadikan media oleh para kalangan muda untuk mencipta slang ini. Leksikon-leksikon yang dimaksud misalnya, PHP (pemberi harapan palsu), ciyus, mie apah (demi apa), GJ (Gaj Jelas), enelan (beneran), kepo (mau tahu), dll.

Bahasa Jargon
Istilah Jargon sering kita dengar, terutama pada media masa dengan menggunakan kata-kata asing dalam mengungkapkan sesuatu. Chaer dan Agustina (2010: 68) menjelaskan jargon adalah variasi social yang digunakan secara terbatas oleh kelompok-kelompok sosial tertentu. Ungkapan yang digunakan seringkali tidak dapat dipahami oleh masyarakat umum atau masyarakat di luar kelompoknya. Namun, ungkapan-ungkapan tersebut tidak bersifat rahasia. Umpamanya, dalam kelompok montir atau perbengkelan ada ungkapan –ungkapan seperti dispooring, didongkrak, dices, dibalans, dan dipoles. Dalam kelompok tukang batu dan bangunan ditemukan ungkapan, seperti disipat, diekspos, disiku dan ditimbang.
Sementara itu, di dalam KBBI, jargon adalah kosakata khusus yang digunakan dibidang kehidupan (lingkungan) tertentu. Nuryadi mendifinisikan jargon adalah laras bahasa yang sengaja dipakai oleh kalangan tertentu tetapi tidak dipahami oleh kalangan di luar kalangan tersebut (Robins 1992: 62). Jargon biasanya berkenaan dengan kosa kata khusus yang digunakan dalam bidang kehidupan tertentu. Kadang istilah jargon membuat kita bingung, karena sebenarnya jargon merupakan jenis kata atau kalimat berbicara yang digunakan dalam kelompok orang-orang tertentu dalam bidang yang sama, yang mungkin tidak diketahui oleh orang lain.
Kadang-kadang, orang yang membaca suatu artikel bukanlah orang yang berpengalaman dalam bidang tersebut sehingga mungkin tidak terlalu memahami terminologi spesifik dari suatu bidang. Walaupun sejumlah artikel mungkin memang tidak akan dibaca oleh khalayak luas, sebaiknya artikel yang menggunakan istilah akademik atau dari profesi tertentu memuat penjelasan dasar yang lebih banyak daripada artikel atau buku akademik pada umumnya. Istilah umum ini dikalangan para ahli dan digunakan secara pantas sebagai cara yang cepat dan efisien untuk berkomunikasi. Contoh jargon dalam dalam linguistik adalah phoneme, morpheme, lexicon, dan sebagainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s