Hakikat Penyimpangan Maksim

Komunikasi adalah aktivitas sosial yang dilakukan oleh setiap penutur bahasa. Di dalamnya terdapat penutur dan lawan tutur yang bersama-sama membangun makna komunikasi agar komunikasi berjalan dengan baik. Wijana (2009:43) mengasumsikan bahwa dalam komunikasi yang wajar, seorang penutur mengartikulasikan ujaran kepada lawan bicara dengan maksud mengomunikasikan pesan dan berharap lawan bicaranya dapat memahami pesan itu. Untuk itu, setiap penutur selalu berusaha agar tuturannya selalu relevan dengan konteks, jelas, dan topik pembicaraan.
Berkaitan dengan hal itu, Barry (2008:138) melihat bahwa bahasa memiliki seperangkat prinsip yang mengatur bagaimana orang berinteraksi dalam percakapan, bagaimana bernegosiasi, bagaimana kesopanan bertutur, keintiman, bagaimana isyarat mengawali dan mengakhiri ujaran. Sebenarnya, orang yang terlibat dalam komunikasi selalu menyadari bahwa ada kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya dan penggunaan bahasanya. Allan (1986) mengatakan bahwa setiap peserta tindak tutur bertanggung jawab terhadap tindakan dan penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual (Wijana, 2009:43). Dengan demikian, ada semacam prinsip yang harus dilaksanakan oleh penutur dan lawan tutur agar komunikasi berjalan lancar.
Grice (1975) berpendapat bahwa satu kegiatan komunikasi yang baik harus dapat memenuhi tujuan percakapan, yaitu harus memenuhi prinsip kooperatif (kerja sama) (Parera, 2004:244). Jika kegiatan komunikasi tidak memenuhi prinsip kerja sama ini, dikatakan menyimpang atau melanggar prinsip kerja sama. Secara lebih jelas, prinsip kerja sama Grice ini meliputi empat maksim, semua akan dipaparkan berikut.
a. Prinsip Kerja Sama
Di dalam prinsip kerja sama Grice ini terkandung empat macam maksim percakapan yaitu, maksim kuantitas (maxim of quantity), maksim kualitas (maxim of quality), maksim relevansi (maxim of relevance), dan maksim pelaksanaan (maxim of manner). Tiap-tiap maksim diuraikan berikut ini.

(a) Maksim Kuantitas
Maksim kuantitas ini menghendaki setiap penutur memberikan kontribusi sebanyak yang dibutuhkan oleh lawan bicaranya (Wijana, 2009:45). Hal ini mengandung maksud tuturan yang tidak memiliki kadar informasi yang benar-benar dibutuhkan oleh lawan tutur, dapat dikatakan melanggar maksim kuantitas. Begitu pula sebaliknya, tuturan yang mengandung kadar informasi berlebihan akan dikatakan juga melanggar maksim kuantitas (Rahardi, 2005:53).
(b) Maksim Kualitas
George Yule (1995:37) menegaskan bahwa maksim kualitas dimaksudkan agar setiap peserta tutur diharapkan berkontribusi secara benar. Artinya, jangan katakan apa yang Anda percayai jika itu salah, dan jangan katakan bahwa apa yang Anda katakan tidak memiliki bukti yang cukup. Dengan kata lain, setiap peserta tutur harus menyampaikan sesuatu yang nyata dan didasarkan pada bukti-bukti yang jelas. Bila tuturan mengandung informasi yang tidak sesuai, tuturan tersebut melanggar maksim kualitas.
(c) Maksim Relevansi
Maksim relevansi mengharuskan setiap peserta tutur memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah yang dibicarakan. Untuk lebih jelasnya perhatikan wacana berikut.
(d) Maksim Pelaksanaan
Maksim pelaksanaan ini mengharuskan peserta tutur bertutur secara langsung, jelas, dan tidak kabur. Orang yang bertutur tidak mempertimbangkan hal-hal itu dapat dikatakan melanggar maksim pelaksanaan. Dalam bahasa Yule (1995:37) maksim ini bertujuan agar tuturan kita menjadi lebih mudah dipahami. Rahardi (2009:57) memberikan ilustrasi berikut untuk penjelasan maksim pelaksanaan.
(1) (A) “Ayo, cepat dibuka!”
(B) “Sebentar dulu, masih dingin.”
Contoh tuturan (1) di atas memiliki kadar kejelasan rendah. Karena memiliki kadar kekaburan makna tinggi. Tuturan (A) sama sekali tidak mengandung kejelasan tentang apa yang sebenarnya diminta. Jawaban dalam tuturan (B) pun mengandung ketaksaan cukup tinggi. Kata dingin di atas mendatangkan banyak kemungkinan persepsi karena tidak jelas apa yang dimaksud dengan dingin itu.
b. Prinsip Kesopanan
Wijana (2009:53) menjelaskan bahwa kegiatan berbicara tidak hanya berkaitan dengan masalah bersifat tekstual, tetapi sering pula bersifat interpersonal. Hal ini memang memenuhi fungsi dalam komunikasi yaitu terjadi hubungan interpersonal. Secara eksplisit, dikatakan bahwa dalam bertutur atau berkomunikasi dibutuhkan prinsip lain selain prinsip kerja sama, yaitu prinsip kesopanan. Sebab, hubungan interpersonal melibatkan dua peserta percakapan yaitu penutur dan lawan tutur.
Prinsip Kesopanan yang diuraikan ini didasarkan pada pendapat Leech (1983). Leech menyampaikan bahwa ada enam jenis maksim yang perlu dipegang oleh setiap peserta tutur agar tercipta kesopanan. Adapun maksim-maksim yang dimaksud sebagai berikut.
(a) Maksim Kebijaksanaan
Ide mendasar maksim kebijaksanan adalah para peserta pertuturan hendaknya memegang prinsip untuk selalu mengurangi keuntungan diri sendiri dan memaksimalkan keuntungan pihak lain dalam kegiatan bertutur (Rahardi, 2005:60). Hal ini dilakukan agar aktivitas percakapan tidak menimbulkan sikap dengki, sakit hati, dan sikap-sikap lain yang kurang santun. Di samping itu, Leech (1986) menyampaiakan bahwa tuturan memiliki tingkat kesopanan berbeda. Untuk lebih memperjelas, perhatikan disajikan tuturan (…) s.d. (….) berikut.
(1) Tutup pintu itu!
(2) Tutuplah pintu itu!
(3) Tolong tutuplah pintu itu!
(4) Sepertinya pintu itu perlu ditutup!
(5) Kalau tidak keberatan, tolong tutup pintu itu!
Tuturan dengan nomor lebih kecil memiliki tingkat kesopanan yang lebih rendah dibanding dengan tuturan dengan nomor yang lebih besar. Berkaitan dengan hal itu, Wijana (2009:55) mengatakan bahwa semakin panjang tuturan semakin besar pula keinginan orang untuk bersikap sopan kepada lawan bicaranya. Demikian pula, tuturan yang tidak langsung lazimnya dipandang lebih sopan daripada tuturan langsung.
(b) Maksim Kedermawanan
Dengan maksim ini para peserta pertuturan diharapkan dapat menghormati orang lain. Maksim ini menuntut setiap peserta pertuturan untuk memaksimalkan rasa hormat kepada orang lain dan meminimalkan rasa tidak hormat kepada orang lain. Wijana (2009:56) menjelaskan bahwa maksim kedermawanan atau kemurahan diutarakan dengan kalimat ekspresif dan kalimat aserfatif. Dengan demikian jelaslah bahwa penggunaan dua kalimat tersebut tidak hanya dalam menyuruh dan menawarkan sesuatu dengan sopan tetapi di dalam mengungkapkan perasaan dan pendapat juga wajib berperilaku sopan. Untuk lebih jelas, berikut disajikan contoh.
Bapak A: “Wah, tanggal tua. Dompet sudah pas-pasan, malah anak minta sepatu”
Bapak B: “Kebetulan aku baru dapat rezeki tambahan, ini aku pinjami uang”.
(c) Maksim Penghargaan
Maksim ini disebut pula dengan maksim kerendahan hati. Diungkapkan dengan kalimat ekspresif dan asertif. Maksim ini menuntut peserta pertuturan untuk selalu berusaha memberikan penghargaan kepada pihak lain. Wijana (2009:57) mengatakan bahwa maksim ini berpusat pada diri sendiri. Artinya, memaksimalkan ketidakhormatan diri sendiri dan meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri.
Guru A: “Pak, aku tadi sudah memulai kuliah perdana untuk kelas Business English
Guru B: “Oya, tadi aku mendengar bahasa Inggrismu jelas sekali dari sini.
(d) Maksim Kesederhanaan
Maksim kesederhanaan atau maksim kerendahan hati menuntut peserta tutur dapat bersikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian terhadap diri sendiri.
(e) Maksim Permufakatan
Maksim ini sering disebut dengan maksim kecocokan. Maksim ini menekankan agar para peserta tuturan dapat saling membina kecocokan atau kemufakatan di dalam kegiatan bertutur. Apabila terdapat kecocokan antara diri penutur dan lawan tutur dalam kegiatan bertutur, masing-masing dikatakan bersikap santun.
(f) Maksim Kesimpatisan
Di dalam maksim ini, diharapkan agar para peserta tutur dapat memaksimalkan sikap simpati antara pihak yang satu dengan pihak lainnya. Sikap antipati terhadap salah seorang peserta tutur akan dianggap sebagai tindakan tidak santun (Rahardi, 2005:65). Jika lawan tutur mendapatkan kesuksesan atau kebahagiaan, penutur wajib memberikan ucapan selamat. Bila sebaliknya, penutur layak turut berduka cita.

DAFTAR PUSTAKA
Anita K. Barry. (2008). Linguistic Perspectives on Language and Education. New Jersey: Pearson Merril Prentice Hall.
George Yule. (1995). Pragmatic. Hawai: Oxford University Press.
H.Douglas Brown. (2008). Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa Ed. Bahasa Indonesia. Jakarta: Kedutaan Besar Amerika Serikat.
J. D. Parera. (2004). Teori Semantik. Jakarta: Erlangga

Kunjana Rahadi. (2005). Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta:Erlangga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s